Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

Risk & Return

| |
0 komentar

Kita sering mendengar perkataan yang mengatakan bahwa Risk & Return selalu berdampingan dan berbanding lurus alias sama, bahasa kerenya ya High Risk High Return. Maksudnya, ketika target hasil investasi kita naik, maka risiko dari investasi kita juga akan ikut naik. Atau ketika ada sebuah produk yang menawarkan hasil investasi (return) yang cukup tinggi, maka bisa dipastikan produk tersebut mengandung resiko "tersembunyi" yang mungkin kita tidak mengerti atau mengetahuinya. Meskipun hal ini sering didengung-dengungkan, tapi masih saja orang yang bertanya-tanya tentang suatu produk atau bahkan skema investasi. Fenomena menjadi Kaya inilah yang kemudian membuat banyak orang buta alias rasionalnya terganggu ketika dihadapkan pada tawaran produk investasi yang menjanjikan memberikan hasil yang sangat tinggi. Menjadi kaya adalah impian semua orang, apalagi menjadi kaya secara cepat. Sayangnya hal tersebut tidak akan pernah diajarkan oleh seorang Perencana Keuangan.

Dalam proses Perencanaan Keuangan yang baik dan benar yang dilakukan oleh seorang Perencana Keuangan profesional, maka seorang klien akan dibuatkan sebuah Buku Plan yang sesuai dengan tujuan keuangan mereka dan akan diminta untuk mengalokasikan dana dan terus menambah investasi mereka setiap bulan. Dibutuhkan kegigihan dan disiplin tinggi untuk selalu bisa melakukan ini setiap bulan selama bertahun-tahun. Bagi sebagain besar orang Indonesia yang ingin serba instant hal ini dirasakan lama dan membuang-buang waktu. Makanya banyak orang yang mencari jalan pintas untuk meningkatkan hasil investasinya sampai 50% bahkan ada yang ingin sampai 100% dalam waktu singkat melalui skema-skema investasi tersebut. Itulah sebabnya juga skema investasi masih tetap marak dan banyak menelan korban.


Bermain dengan risiko dan konsekuensi yang akan diterima adalah cukup berat. Apabila ada suatu strategi investasi yang bisa memberikan hasil sampai dengan 50% ataupun 100% maka bisa dipastikan bahwa risikonya pun akan setimpal yaitu kita mempunyai potensi untuk kehilangan dana kita 50% sampai 100%. Pertanyaannya adalah apabila kita mempunyai tabungan satu-satunya sebesar Rp. 100 juta yang kita investasikan dengan harapan mendapatkan hasil 50%, nah pada saat kita berhasil dan investasi kita naik 50% menjadi Rp 150 juta apakah hal ini akan mengubah gaya hidup kita. Mungkin iya sedikit, mungkin kita akan membeli HP baru atau jalan-jalan bersama keluarga. Tapi tidak serta merta membuat kita menjadi kaya dan menjadi miliuner kan?.



Bagus sekali apabila investasi kita naik 50% akan tetapi seperti yang saya disebutkan diatas apabila bisa naik 50% maka investasi kitapun juga bisa turun 50%. Nah sekarang skenarinya saya balik, pertanyaannya adalah apabila investasi kita turun minimum 50% apa yang terjadi? Ketika dana kita kita satu-satunya yang kita investasikan dengan risiko tinggi ini turun dari 100 juta menjadi hanya tinggal 50 juta, apakah akan merubah hidup kita? Sudah barang tentu akan terasa berat untuk kita. Kemungkinan kita harus kerja lembur atau mencari penghasilan tambahan agar kita bisa menabung lagi untuk menutup kerugian kita. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mendapatkan kembali kerugian Rp 50 juta tersebut? Apakah kerja keras dan kerja tambahan ini setimpal dengan hasil yang kita dapatkan apabila kita untung 50%?.



Oleh sebab itu pikirkan kembali baik-baik apabila kita ingin serakah dalam berinvestasi. Jangan tergoda dengan skema-skema investasi yang memberikan iming-iming hasil yang menggiurkan dan akibatnya sering menyesatkan. Pergunakan akal sehat kita dan selalu ingat bahwa semakin tinggi hasil investasi yang kita harapkan maka semakin tinggi juga potensi risiko terhadap investasi tersebut.
Description: Risk & Return Rating: 3.5 Reviewer: Stasiun Geofisika Alor ItemReviewed: Risk & Return
Read More

Berapa Hasil Investasi yang Normal ?

| |
0 komentar

Tidak akan ada 1 orangpun yang bisa dengan pasti menyatakan atau tahu kapan pasar akan bergerak naik atau sebaliknya turun. Seperti contohnya IHSG yang bergerak cukup fantastis dan 'liar' naik turunnya dalam waktu 2-3 bulan terakhir ini.

Tapi justru ketidaktahuan tersebutlah yang menjadikan investasi diproduk pasar modal menjadi indah dan penuh dengan nilai artistik. Selain masih kurang paham tentang pasar modal dan produk turunannya, banyak dari kita yang sudah terlanjur investasi dipasar modal masih tidak mengerti mekanisme perhitungan keuntungan yang didapat. Hal ini terasa wajar karena kita masih membandingkan dengan perhitungan bunga yang sangat mudah yang kita dapat dari deposito kita. Apalagi kita juga harus mengetahui sebenarnya berapa besar hasil investasi kita yang sebenarnya atau hasil investasi bersih.

Meskipun banyak teori perhitungan hasil investasi seperti nominal dan riil serta arimatik dan geomatrik, marilah kita coba berhitung hasil investasi kita secara sederhana saja. Dari teori diatas yang paling mudah dan sering dipergunakan adalah hasil investasi riil dan nominal. 

Hasil investasi riil adalah hasil investasi atau bunga yang kita terima dari dana kita dikurangi inflasi. Inflasi yang dipergunakan ada 2 macam yaitu inflasi saat ini atau inflasi rata-rata 10-15 tahun yang lampau. Sebagai contoh, apabila kita menempatkan dana didalam deposito yang memberikan bunga sebesar 7% gross atau 5.6% net dengan inflasi yang saat ini oleh pemerintah disebut-sebut sekitar 6.5% setahun terakhir maka dana kita menjadi -0.1% per tahun (5.6% - 6.5%) atau hasil investasinya minus.

Bayangkan apabila dibandingkan dengan inflasi rata-rata 10-15 tahun yang lalu yang bisa mencapai 12,64% atau dibulatkan menjadi sekitar 13% per tahun, maka hasil investasi dari contoh soalnya diatas adalah sebesar -7.4% (5.6% - 12%). Suatu pengurangan yang sangat besar bagi dana investasi kita yang artinya uang kita tidak berkembang atau bahkan merugi. Angkanya semakin menyeramkan apabila perhitungan menggunakan tabungan yang memberikan bunga ala kadarnya.

Harus diingat dan disadari perhitungan ini dengan catatan bahwa bunga deposito kita tidak kita sentuh alias didiamkan saja. Sedangkan kita sadari berapa banyak dari kita yang bergantung hidup atau menggunakan bunga deposito tersebut sebagai tambahan dana untuk menutupi biaya hidup. Akibatnya minusnya akan lebih banyak lagi. Berinvestasilah dengan baik dan benar dan hitung lagi serta pastikan bahwa hasil investasi kita yang sebenarnya tidak menjadi minus. detik@finance Description: Berapa Hasil Investasi yang Normal ? Rating: 3.5 Reviewer: Stasiun Geofisika Alor ItemReviewed: Berapa Hasil Investasi yang Normal ?
Read More

Menghitung Untung Rugi Investasi

| |
0 komentar


 Banyak orang yang belum paham cara menghitung keuntungan investasi mereka, sementara itu banyak cara juga untuk menghitung investasi dan hasil dari investasi kita, beberapa yang cukup dikenal adalah cara aritmatik dan geometrik. Tapi banyak orang yang kurang paham akan istilah-istilah tersebut. 


Padahal mengetahui hasil investasi kita dan menghitung keuntungan dari investasi kita adalah salah satu hal yang penting sehingga kita bisa mengetahui apakah produk yang kita pilih sudah tepat dan memberikan hasil sesuai harapan kita. Dilain pihak kita juga bisa melihat dan menghitung apakah hasil investasi yang diberikan oleh produk yang kita pakai sesuai dengan resiko yang juga terdapat pada produk tersebut.

Adapun perhitungan yang sangat sering dilakukan adalah dengan menggunakan nominal dimana nilai investasi kita sekarang dikurangi nilai investasi kita pada saat masuk (investasi diawal) dibagi nilai investasi kita diawal maka didapatlah keuntungan investasi kita. Contoh, apabila kita membeli selembar saham perusahaan X seharga Rp. 5.000,- dimana setelah kita investasi selama 1 tahun harga saham tersebut naik menjadi Rp. 6.500, maka keuntungan investasi yang telah kita dapatkan dari kenaikan harga saham (capital gain) adalah sebesar 30%, Rp. 6.500 - Rp. 5.000 = Rp. 1.500 / Rp. 5.000 = 0.3 x 100 = 30%

Perhitungan yang sama dapat kita lakukan dengan investasi kita di produk seperti unitlinked dan reksa dana dimana kedua produk ini menggunakan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebagai patokan harga unit. Contoh, kita berinvestasi sebesar Rp. 10.000.000 di sebuah reksa dana saham dengan NAB awal seharga Rp. 1.000,- per unit. Artinya kita memiliki unit sebanyak Rp. 10.000.000,- / Rp. 1.000 = 10.000 unit. Nah, ketika NAB kita naik (info bisa dilihat di surat kabar) menjadi Rp. 1.150 per unit, maka hasil investasi kita naik sebesar Rp. 1.150 – Rp. 1.000,- = Rp. 150 per unit / Rp. 1.000 = 0.15 x 100 = 15%.

Demikian juga kebalikannya apabila investasi kita menurun, apabila terjadi kerugian investasi maka hasil investasi dana kita akan menjadi minus apabila nilai atau hasil investasi akhir kita bernilai dibawah dari investasi awal kita. Meskipun dalam berinvestasi dipasar modal kerugian tersebut masih bisa berbalik arah menjadi naik (untung) kembali apabila kita berinvestasi untuk jangka panjang. Satu hal yang harus kita ingat adalah, keuntungan maupun kerugian yang telah kita hitung tersebut adalah hanya diatas kertas, yang dikenal dengan istilah unrealized profit / loss atau keuntungan / kerugian yang belum direalisasikan. Keuntungan tersebut baru akan menjadi milik kita, atau kerugian tersebut baru kita rasakan ketika investasi kita sudah kita jual. 

Oleh sebab itu mulailah berinvestasi dan lakukan perhitungan hasil investasi kita yang sudah beranak pinak tersebut, asal jangan sering-sering dihitung karena investasi bisa naik dan turun kapan saja. (detik@finance)
Description: Menghitung Untung Rugi Investasi Rating: 3.5 Reviewer: Stasiun Geofisika Alor ItemReviewed: Menghitung Untung Rugi Investasi
Read More
| |
0 komentar

       Sepanjang liburan lebaran kemarin kebetulan saya tetap melakukan pemantauan perkembangan bursa Amerika dan dunia dan mendapati bahwa Dow Jones terpuruk lagi dan Harga Emas alias Gold Price naik. Padahal kondisi harga emas sempat naik tinggi beberapa minggu di bulan Ramadan sebelum akhirnya terpuruk karena koreksi di minggu terakhir menjelang Idulfitri.


Akan tetapi, meskipun harga Logam Mulia (LM) juga ikut terpuruk, fenomena 'borong emas' jelang lebaran menyebabkan harga jual LM tetap tinggi. Tidak hanya itu, meskipun harga jual juga tinggi tapi kita akan kesulitan untuk mendapatkan LM dengan gram kecil karena posisi barang yang kosong. Entah kosong karena Aneka Tambang kehabisan stok atau memang toko emas belum mau melepas LM mereka karena kondisi harga yang bisa berubah setiap jamnya.

Apabila dilihat secara historis, harga emas Logam Mulia di Indonesia pun secara konstan memang terus meningkat. Saat ini harga Logam Mulia sudah bertengger diatas Rp 500,000 per gram sementara tahun lalu masih berkisar antara Rp. 390.000 - Rp 420.000. Dapat dilihat hanya kurang dari 1 tahun saja di tahun 2011 ini kenaikan harga emas dunia dan terutama LM sudah diatas 25%.

Kalau kita hitung dengan menggunakan rata-rata kenaikan 20% per tahun, maka tidak heran kalau ditahun 2015 harga logam mulia bisa mencapai Rp. 1 juta per gram. 

Ketika saya mulai merekomendasikan orang untuk berinvestasi di Logam Mulia ditahun 2003, ketika itu harga LM masih dikisaran Rp 130,000 - Rp 150.000 per gram, dan tidak banyak orang yang mendengarkan rekomendasi saya. Bahkan masih ingat dalam ingatan saya ditahun 2005 banyak orang yang melecehkan saya karena memberikan rekomendasi alternatif investasi di emas Logam Mulia, karena emas adalah investasi kakek nenek dan orang tua kita. Malah saya sempat di cap Perencana Keuangan alias Financial Planner kuno. Tapi liat saat ini, kini orang-orang berlomba-lomba mengumpulkan emas, dan selama kondisi ekonomi dunia masih tidak stabil serta orang tidak percaya mata uang dunia, selama itu juga emas masih akan berjaya.

Banyak yang kemudian menjadi takut kalau harga emas ini naik terlalu cepat alias Bubbling. Akan tetapi, dengan masih tingginya permintaan emas baik di China & India dan terbatasnya jumlah emas yang masih bisa ditambang, serta permintaan pembelian yang terus menanjak, maka kenaikan harga emas tersebut masih cukup realistis. Apalagi ditengah ketidak percayaan banyak orang terhadap mata uang dunia seperti US Dollar dan sekarang Euro membuat banyak investor mencari alternatif investasi yang lebih bisa dipercaya.

Pertanyaannya adalah, apakah kemudian emas bisa turun? Karena ini tetap instrument investasi, tentu saja jawabannya bisa turun, hanya pertanyaanya adalah kapan?. Kalau kita melihat statistik harga emas dunia selama ini, penurunan dasyat terjadi ditahun 80-an dan tahun 2008 kemarin. Sementara penurunan tajam yang terjadi beberapa minggu yang lalu lebih kepada koreksi sehat karena harga jual emas dunia yang saat itu sempat naik tajam sekali menembus level resistan. Sementara dengan ketidakpastian kondisi ekonomi dunia dan melemahnya bursa dunia, emas bisa dipakai sebagai alternatif pengimbang (baca: diversifikasi) portofolio kita.

Banyak orang yang pesimistis dan mengatakan kenaikan emas tidak ada hitungan fundamentalnya. Beberapa 'orang-orang pintar' bahkan mengatakan emas tidak bisa divaluasi, serta jumlahnya (kapitalisasi) yang tidak sebanyak instrumen keuangan lainnya seperti saham dan obligasi menyebabkan emas menjadi volatile. Pendapat tersebut sah-sah saja, karena orang bebas berpendapat, tapi yang tidak bisa dipungkiri adalah ketika cincin emas yang saya buat ditahun 1995 seharga tidak sampai Rp 1 juta, ditahun 2005 ditawar toko emas diharga Rp. 10 juta. Anda bisa hitung sendiri berapa return hasil investasinya. Hitungan fundamental dan lain-lainnya memang penting, akan tetapi hasil akhirnya adalah, berapa harga emas ketika kita beli dan berapa harga emas ketika kita jual yang akan menentukan kenaikan aset kita. 
Description: Rating: 3.5 Reviewer: Stasiun Geofisika Alor ItemReviewed:
Read More
MM Unwira (c) Kupang. Powered by Blogger.

Labels

Elektro dan Komputer (7) Investasi (4) Lab (4) Seismology (4) Tips N Trik (4) Proyek (3) Android (2) BOSCH (2) DNS (2) Manajemen dan Keuangan (2) Otomotif (2) Parabola (2) Sistem Kontrol (2) TV (2) USB (2) pratek (2) Buyer Guidence (1) Calculator (1) Cara Register (1) DOL (1) Diet (1) FlexiNet (1) GPU (1) Google (1) Hardware (1) Internet (1) OCD (1) OTG (1) Sepakbola (1) Tender (1) alat ukur (1) cctv (1) genset (1) listrik (1) matrix hd (1) oscilloscope (1) tools (1)